(image by Studio Philippines on Canva Studio)

Sejak mulai kenal dengan pemikiran Islam, saya mulai sedikit tau tentang Ibu Dinar Dewi Kania, direktur The Center for Gender Studies (@thisisgender), yang sering vokal membahas isu-isu gender dan perempuan. Kebetulan pula, saya sudah lama ikut grup telegram @therealummi yang secara fokus membahas parenting dan keluarga, dengan tagline "Ikhtiar Menjadi Madrasah Peradaban Sejati". Minggu lalu, komunitas The Real Ummi mengundang Ibu Dinar sebagai pemateri tentang perempuan. Apa hubungannya perempuan dan keluarga? Seperti yang sudah umum kita ketahui, perempuan menjadi tiang negara dan pemegang peran peradaban. Apalagi, perempuan dianugerahkan melahirkan anak, yang tentu menjadi pengasuh terdekat dan terintim bagi anaknya karena ia yang mengandung, melahirkan, dan menemani keseharian sang anak.

Seiring perkembangan zaman, tantangan yang hadir pun makin beragam dan bisa jadi membahayakan. Ibu Dinar mengangkat poin utama isu pemikiran sebagai tantangan perempuan (terutama muslimah) di era postmodern, bukan tanpa alasan penting. Kita mungkin kemarin-kemarin sempat mengikuti isu "childfree" yang viral dan menimbulkan pro-kontra. Akhirnya, isu "childfree" ini menjadi bias dan menggiring pemikiran muslimah untuk menerima banyak pendapat (yang tentu disertai dengan libatan emosi), tanpa mendengar ucapan ulama atau tanpa kembali melihat sumber kebenaran, yakni Al-Qur'an dan Hadits. Isu "childfree" yang dimaknai sebagai keputusan untuk tidak memiliki anak (padahal ia mampu)  juga seolah-olah merangkul para orang tua yang tidak bisa memiliki anak. Padahal, sebenarnya, "childfree" (yang bisa punya anak tapi memutuskan untuk tidak punya anak) berbeda dengan "childless" (yang tidak bisa punya anak). Isu "childfree" ini sebenarnya sebagai salah satu gunung es yang sudah cukup lama dibangun secara sistematis oleh sekelompok manusia.

Kenapa Harus Isu Pemikiran? 

Kita tentu saja tidak bisa mengelak bahwa saat ini perempuan sedang memiliki problem penting. Problem pentingnya bukan lagi tentang kesetaraan dan emansipasi karena semua sudah diatur lengkap dan selesai oleh Islam. Namun, problem perempuan (muslimah) saat ini adalah kebingungan dan "ikut-ikutan" atas isu pemikiran yang sedemikian cepat sampai. Kenapa pula harus melek terhadap isu pemikiran? Sebagai perempuan yang kelak menjadi seorang ibu, cara pandang dan prinsip hidup kita akan berpengaruh pada pengasuhan. Jadi, pengasuhan pada anak bukan hanya sebatas pengasuhan konvensional: gizi, kesehatan, maajemen waktu, dan lain-lain (karena hal itu bisa diambil alih oleh orang lain), melainkan juga pengasuhan pemikiran (terminologi baru). Apalagi, untuk generasi ibu milenial yang sehari-harinya tak bisa lepas dari media sosial.  

Sebagai orang yang menggunakan smart phone, kita juga harus menjadi smart people. Salah satunya, bijak bermedia sosial karena media sosial memiliki sifat memancing emosi. Oleh karena itu, kita harus memiliki panduan berpikir agar bisa menerima dan mengolah berbagai informasi secara benar. 

Isu pemikiran apa sih yang saat ini sedang sangat ramai diperbincangkan di media sosial? Salah satunya adalah isu kesetaraan gender (yang sangat melebar contoh kasusnya). Isu ini dipayungi oleh ideologi Feminisme. 

Bagaimana Awal Mula Kemunculan Feminisme?

Secara singkat, pada tahun 1920-an, di negara-negara Barat, perempuan tidak boleh memiliki properti (hak kepemilikan) setelah menikah. Misalnya, perempuan tidak boleh memiliki barang, uang, harta, dan sebagainya. Ini pulalah yang melahirkan Feminis gerakan pertama, yakni memperjuangkan perempuan agar memiliki hak-hak sipil, memiliki properti, pendidikan, hak suara, dan semacamnya. 

Setelah lahirnya gerakan Feminis pertama yang menuntut hak pekerjaan, akses kepada pendidikan tinggi, hak kepemilikan, dan hak politik, muncullah Feminis gelombang kedua, yakni adanya revolusi seksual. Di saat semua hak sudah dimiliki dan tuntutan mereka sudah tercapai, perempuan Amerika era 1960-an (era postmodern) justru kembali meyakini bahwa tempat terbaik bagi perempuan adalah rumah.

Namun, masalahnya... keinginan perempuan Amerika untuk back to family menurut Betty Friedan justru menghasilkan krisis lainnya, yakni krisis identitas atau krisis eksistensi di kalangan perempuan Amerika. Bagaimana itu bisa terjadi? 

Krisis Eksistensi? 

Krisis ini disebut oleh Friedan dengan istilah "the problem that has no name" untuk menggambarkan ketidakbahagiaan perempuan Amerika, padahal mereka memiliki kenyamanan materi, menikah, dan memiliki anak. Katanya, tinggal di rumah saja ternyata tidak bisa memuaskan kaum perempuan karena mereka hanya berkisar antara rumah, suami, dan anak. Padahal, ketidakbahagiaan perempuan bukan berasal dari feminine role (peran domestik sebagai istri dan ibu), bukan pula karena tidak adanya kebebasan atau kemerdekaan seksual (seperti anggapan Feminis radikal). 

Menurut Baiduzzaman Said Nursi (yang juga disampaikan oleh Ibu Dinar), kebahagiaan perempuan yang juga sebagai kenikmatan hakiki yang terdapat di dunia ini sesungguhnya ada dalam keimanan dan koridornya, "Dalam setiap amal saleh terdapat kenikmatan jiwa. Sementara itu, dalam kesesatan, terkandung berbagai penderitaan di dunia pula."

Kalau Friedan mengatakan bahwa problem eksistensi yang dialami oleh perempuan Barat adalah problem yang tidak memiliki nama, Ibu Dinar justru menyarankan kita selaku muslimah, untuk menyebut problem mereka dengan nama "krisis ilmu". Dan, bahayanya, krisis ilmu tidak hanya dialami oleh gerakan Feminis, melainkan perempuan muslim yang juga saat ini banyak mengalaminya.

Padahal, seperti yang disampaikan oleh Al-Attas, peradaban Islam akan kembali bersinar jika pertama kali yang diselesaikan adalah krisis ilmu di dunia muslim. Jika kita, para wanita dan ibu milenial saat ini tidak merespons akar permasalahan ini, krisis di dunia Islam tidak akan pernah berakhir. 

Bagaimana Jika Muslimah Krisis Ilmu?

Menurut Ibu Dinar, jika kita mengalami krisis ilmu, kita akhirnya berpaling dari Islam dan mengadopsi cara pandang Liberalisme (salah satunya Feminisme) dalam menilai (salah satunya) problematika perempuan. Padahal, hanya peradaban Islam, yang sejak kemunculannya, telah menghasilkan para intelektual dari kaum perempuan. 

Jika sudah tidak memiliki prinsip hidup dan cara pandang yang benar, mungkin kita akan menjadi bimbang atau bahkan ikut-ikutan dalam merespons isu-isu ketubuhan dan patriarki (yang digerakkan oleh Feminis gelombang ketiga dan keempat). Atau bahkan, kita sendiri ikut-ikutan menganggap bahwa cara pandang yang benar itu bersifat relatif, seperti yang terjadi di era postmodern ini.

Lalu, Apa Itu Era Postmodern dan Apa Bedanya dengan Era Modern?

Era modern memiliki ciri khas: kebenaran yang absolut dan bersifat universal. Misalnya, ketika dunia bilang LGBT tidak masalah, lalu ada satu orang yg mengatakan bahwa LGBT tidak boleh, maka satu orang itu bisa dianggap dan diakui kebenarannya (tidak dihitung dari banyaknya orang dan bukan mentang-mentang banyak). 

Sebaliknya, pada zaman postmodern, tidak ada kebenaran yang absolut (membunuh atau LGBT itu boleh-boleh saja bergantung yang bicara), dan semua dianggap benar. Pada zaman ini, ilmu yang sejati katanya tidak bisa dicapai oleh manusia. Bahkan, jenis kelamin pun saat ini bisa memilih, alat produksi tidak lagi memengaruhi jenis kelamin.

Jika kebenaran itu relatif, mengapa orang-orang yang menggunakan jilbab bahkan cadar dianggap sebagai simbol penindasan? Bukankah hal tersebut justru kontradiktif? Atau bahkan, seperti kasus viral kemarin, mengapa santri yang menutup telinga saat mendengarkan musik justru di-bully dan dihakimi?

Kalau kata Bu Dinar, mereka (yang cara pandangnya liberal) ingin menguniversalkan ideologi mereka sehingga ideologi mereka lebih tinggi dari agama, dan akhirnya masuk menjadi pandangan hidup. Akhirnya, kita hanya "iya-iya" aja. Padahal, dulu kita melihat sesuatu secara Fiqih. Namun, saat ini, justru melihat sesuatu dari kacamata worldview lain (yang tentu menimbulkan kecurigaan-kecurigaan lain) sehingga bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadits. Ibu-ibu milenial akhirnya mengambil kacamata pemikiran liberal dan meninggalkan kacamata Islam, meninggalkan ulama, dan justru mengikuti ulama yang tidak otoritatif. 

Pada akhirnya, kita ingin menjadi bagian yang bagaimanakah? Semoga kita tidak termasuk ke dalam bagian orang-orang yang krisis ilmu. Yuk-yuk semangat belajar!

Related Posts